MENANGGAPI BENCANA DESA STIENG, KAB. WONOSOBO
Hakikat Bencana Alam dalam Al-Quran
Jum’at, 22 Januari 2010. Cara pandang orang-orang sekular yang tidak mampu melihat kaitan antara Tuhan dengan hamba, antara agama dengan kehidupan dan antara dunia dan akhirat. Manusia semacam ini tidak pernah mau dan tidak mampu menjadikan berbagai peristiwa alam tersebut sebagai pelajaran dan sebagai bukti kekuasaan dan kebesaran Allah
إن الحمد لله وحده, نحمده و نستعينه و نستغفره ونتوب اليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا من يهد الله فهو المهتد ومن يضلله فلن تجد له وليا مشرشدا, أشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله بلغ الرسالة وأدى الأمانة ونصح للأمة وتركنا على المحجة البيضاء ليلها كنهارها لا يزيغ عنها الا هلك, اللهم صل وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن دعا بدعوته الى يوم الدين. أما بعد, فيا عباد الله اوصيكم ونفسي الخاطئة المذنبة بتقوى الله وطاعته لعلكم تفلحون. وقال الله تعالى في محكم التنزيل بعد أعوذ بالله من الشيطان الرجيم : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (ال عمران : 102)
Kaum muslimin rahimakumullah….
Pertama-tama, marilah kita tingkatkan kualitas taqwa kita pada Allah dengan berupaya maksimal untuk melaksanakan apa saja perintah-Nya yang termaktub dalam Al-Qur’an dan juga Sunnah Rasul saw. Pada waktu yang sama kita dituntut pula untuk meninggalkan apa saja larangan Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an dan juga sunnah Rasul Saw.
Hanya dengan cara itulah ketakqawaan kita mengalami peningkatan dan perbaikan…. Selanjutnya, shalawt dan salam mari kita bacakan untuk nabi Muhammad Saw sebagaiman perintah Allah : Wahai orang-orang beriman, ucapkan shalawan dan salam pada nabi (Muhammad) Saw. (QS Al-Ahzab : 56).
Kaum Muslimin rahimakumullah….
Sepertinya kita tak henti-hentinya mendengar dan mengetahui bencana demi bencana yang menimpa bumi tercinta ini. Setelah bencana Tsunami Di Aceh, Gempa bumi di Jogja dan Padang. Disusul gempa bumi dan Tsunami di negara Haiti benua amerika yang menelan korban hingga ratusan ribu… Belum lagi hilang dari ingatan kita, kemarin, Rabu tanggal 20 Januari 2010 kita dikejutkan oleh bencana tanah longsor yang menimpa saudara kita di Desa Setieng Kec. Kejajar. Sejumlah orang meninggal dunia dan luka-luka, Puluhan rumah mengalami rusak parah dan rusak ringan, Ratusan warga lainnya dievakuasi ke tempat yang lebih aman, karena hujan lebat bercampur angin masih melanda wilayah tersebut. Menurut berita terakhir, hingga hari ini 3 orang masih dalam pencarian.
Melihat kenyataan tersebut di atas, sudah sepantasnyalah kita melakukan introspeksi terhadap apa yang telah kita lakukan selama ini. Apakah kita sudah bijaksana dalam mengelola alam sekitar kita, yang sebenarnya adalah bukan milik kita sendiri tetapi kita meminjam dari anak cucu kita. Seharusnya kita jaga kelestariannya. Akan tetapi keserakahan manusia telah mengakibatkan kerusakan di mana-mana. Orangpun tidak ingat lagi apa dan mau kemana tujuan hidupnya. Satu-satunya yang masih menjadi tujuan hidup mereka adalah memenuhi hawa nafsunya. Dapat kita contohkan bahwa hutan sebagai penahan erosi dan laju air hujan dibabat habis, semua diganti lahan pertanian. Sehingga tidak mengherankan apabila kemudian muncul bencana tanah longsor, banjir bandang, wabah penyakit dan sebagainya. Bukan hanya itu saja, bukti keserakahan manusia yang lain misalnya, karena kecanggihan teknologi ciptaan manusia juga, beberapa orang mampu menduplikat kode rahasia milik seseorang pemegang rekening suatu bank, untuk kemudian menguras rekeningnya melalui mesin ATM… naudhubillah tsumma na’udhubillah…
Apa yang telah diuraikan diatas kita anggap sebagai suatu ujian berat : mengapa bisa terjadi. Banyak jawaban bisa diberikan, namun satu hal adalah karena orang terlalu banyak mengabaikan Allah dan hukum-hukum Nya. Baik hukum atau peraturan tertulis yang dituangkan dalam Al-Qur’an, maupun peraturan yang tidak tertulis yang terdapat pada jagat raya ini. Betapa punhukum atau peraturan yang diberikan Allah kepada kita adlah untuk kebaikan dan kemaslahatan kita dalam arti yang seluas-luasnya, sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Dan munculnya berbagai bencana pun kenyataan bukan oleh siapa-siapa melainkan oleh ulah tangan dan fikiran manusia sendiri, yang oleh Allah sengaja diperlihatkan untuk menjadi pelajaran bagi yang lain (Q.S. Ar-Rum 41)
Yang lebih menyedihkan lagi ialah, semua peristiwa besar tersebut dipandang bagaikan peristiwa yang terjadi begitu saja, tanpa ada kaitannya dengan kehendak Tuhan Maha Pencipta alam ini, yakni Allah Ta’ala dan tanpa ada kaitannya dengan kemungkaran manusia terhadap Allah Tuhan Pencipta mereka.
Hal tersebut dapat kita lihat ungkapan dan opini yang berkembang dalam masyarakat yang mengandung semangat melawan bencana-bencana besr tersebut dengan cara membangun rumah dan gedung anti gempa, teknologi pendeteksi tsunami, kanal-kanal raksasa pengendali banjir, hujan buatan untuk mengatasi kekeringan, menciptakan vaksin anti berbagai virus yang menyebar di berbagai penjuru dunia dan sebagainya.
Apa yang diberitakan, didiskusiakan dan dilakukan sama sekali tidak mencerminkan hubungan semua peristiwa itu dengan Allah Rabbul Alamin.
Cara Pandang Manusia Terhadap bencana Alam
Kaum Muslimin rahimakumullah….
Kalau kita mentadabburkan ayat-ayat Al-Qura’an terkait bencana alam yang menimpa berbagai umat sebelum kita, sejak zaman nabi Nuh, Ibrahim, Luth, Syu’aib, Sholeh, Musa dan sebagainya, kita akan menemukan dua cara pandang manusia terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di atas bumi ini.
Pertama, cara pandang orang-orang ingkar pada Allah dan Rasul-Nya. Cara pandang. mereka adalah sekular, tidak dapat melihat kaitan antara Tuhan dengan hamba, antara agama dengan kehidupan dan antara dunia dan akhirat.
Golongan ini adalah mereka yang tidak menjadikan berbagai peristiwa alam tersebut sebagai pelajaran dan sebagai bukti kekuasaan dan kebesaran Allah. Mereka bukannya mengoreksi diri dan kembali kepada Allah, melaikan semakin bertambah kesombongan dan kemungkaran mereka pada Allah dan Rasul-Nya. Hal seperti ini dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an, dii antaranya dalam surat Ghafir / 40 : 21:
أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ كَانُوا مِنْ قَبْلِهِمْ كَانُوا هُمْ أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَآَثَارًا فِي الْأَرْضِ فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ وَمَا كَانَ لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَاقٍ (21)
“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu adalah lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi maka Allah mengazab mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan mereka tidak mempunyai seorang pelindung dari azab Allah” (21)
Kedua, cara pandang orang-orang beriman kepada Allah dan para Rasulnya. Apa saja peristiwa alam yang terjadi mereka kembalikan semuanya kepada kehendak dan kekuasaan Allah, mereka hadapi dengan hati yang penuh iman, tawakakal, sabar dan tabah serta mereka lihat sebagai sebuah ujian dan musibah untuk menguji kualitas keimanan dan kesabaran mereka, atau bisa juga sebagai teguran Allah atas kelalaian dan dosa yang mereka lakukan.
Selain itu, semua peristiwa yang menimpa manusai mereka jadikan sebagai momentum terbaik untuk mengoreksi diri (taubat) agar lebih dekat kepada Allah dan sistem Allah dan Rasul-Nya. Pada saat yang sama merekapun meninggalkan larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya.
Mereka adalah orang-orang yang sukses dalam beriteraksi dengan alam dan dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan semasa hidup di dunia dan juga di akhirat kelak. Allah menjelasakannya dalam Al-Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 155 – 157 :
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (157(
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(155) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (seusngguhnya kami milik Allah dan sesunnguhnya kami sedang menuju kemabali kepada-Nya) (156) Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (157) (Q.S. Al-Baqoroh / 2 : 155 -157)
Penyebab Terjadinya Musibah
Al-Qur’an dengan tegas menjelasakan bawa sebab utama terjadinya semua peristiwa di atas bumi ini, apakah gempa bumi, banjir, kekeringan, tsunami, penyakit tha’un (mewabah) dan sebagainya disebabkan ualah manusia itu sendiri, baik yang terkait dengan pelanggaran sisitem Allah yang ada di laut dan di darat, maupun yang terkait dengan sistem nilai dan keimanan yang telah Allah tetapkan bagi hambanya.
Semua pelanggaran tersebut (pelanggaran sunnatullah di alam semesta dan pelanggaran syariat Allah yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul-Nya, termasuk Nabi Muhammad Saw), akan mengakibatkan kemurkaan Allah. Kemurkaan Allah tersebut direalisasikan dengan berbagai peristiwa seperti gempa bumi, tsunami dan seterusnya.
Semakin besar pelanggaran manusia atas sistem dan syariat Allah, semakin besar pula peristiwa alam yang Allah timpakan pada mereka. Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an :
فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (40(
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.(Q.S. Al-Ankabut / 29 : 40)
JIKA diperhatikan dari berbagai catatan sejarah, baik yang diungkapkan kembali oleh ayat-ayat Al-Quran maupun hasil-hasil penemuan geografi dan penemuan lainnya, maka
Tampak berbagai pelanggaran yang dilakukan orang-orang terdahu sehingga muncullah berbagai bencana, malapetaka di darat, laut dan udara, antara lain-!ain, meliputi :
1. Menyekutukan Alloh: tidak mau mengabdi hanya kepada Allah saja, hahkan di antara mereka menolak Allah yang memiliki segala kemahabesaran dan kemahakuasaan.
2. Menentang Rasulnya : Banyak cara mereka lakukan mulai dari yang halus sampai yang kasar dengan pengusiran dan ancaman pembunuhan.
3. melanggar peraturan : Bentuk nyata dalam pelanggaran hukum ini adalah peraturan atau hukum yang diciptakan Allah, baik yang tertulis yang dituangkan dalam kitab-kitabnya, maupun hukum tidak tertulis tapi terlihat jelas di jagat raya ini, yang biasa disebut hukum alam atau Ssunatullah
4. Pemuasan nafsu : Banyak sekali bentuk dan caranya sampai di luar batas-batas kemanusiaan, baik nafsu kekuasaan, nafsu pemikiran dan tindakan, nafsu terhadap kekayaan dan sebagainya.
BENTUK-bentuk pelanggaran di atas memang tidak berdiri sendiri, tapi saling berkaitan satu dengan lainnya. Dari itu upaya untuk menghindarinya yaitu jangan sampai bencana muncul, di samping memperhatikan kenyataan-kenyataan di atas, perlulah kita kembali kepada Allah dan berusaha sernaksimal mungkin untuk rnelakukan pekerjaan-pekerjaan yang diridhoi Allah. Hingga demikian rakhmat Allah akan turun dan bencana yang datang silih berganti dapat berkurang bahkan hilang sama sekali.
Amin ya Rabbal alamin.
Mari kita renungkan firman Allah berikut ini :
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (96)
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka menolak (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.(96) (Q.S. Al-A’raf / 7 : 96)
Kaum Muslimin rahimakumullah…. Demikianlah khutbah singkat ini semoga bermanfaat bagi kita dalam menjalankan kehidupan dunia yang sementara ini. Semogaa Allah selalu membimbing kita ke jalan-Nya yang lurus, yaitu jalan para nabi, shddiqin, syhadak dan sholihin.
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وايكم بما فيه من الآيات و الذكر الحكيم أقول قول هذا وأستغفر الله لي ولكم إنه هو السميع العليم ……
Disarikan dari : http://www.eramuslim.com/khutbah-jumat/fathddin-jafar-hakikat-bencana-alam-dalam-al-quran.htm
Posted on 22 Januari 2010, in KATA BIJAK and tagged alam, bencana, hujan, jum'ah, khutbah, longsor, stieng, tanah, ujian, wonosobo. Bookmark the permalink. Tinggalkan sebuah Komentar.










Tinggalkan sebuah Komentar
Komentar (1)